Temuireng

Desember 9, 2008

Idul FiTriQ

Filed under: pengalaman — temuireng @ 7:23 am

Perjalanan yang Menyenangkan

Mudik hari raya merupakan hari yang menyenagkan buat para mahasiswa. Begitu pula saya, saya mudik sendirian naik bus.

Setelah melewati beberapa kota, sampailah saya di daerah pegunungan yang jalannya berbelok-belok. Pemandangannya begitu indah, udaranya segar, dan banyak pohon pinus yang menjulang tinggi. Di sepanjang kanan-kiri ada banyak orang, ada yang meminta-minta, ada yang mengarahkan kendaraan, ada pula yang sekedar istirahat.

Memasuki kota Kalibaru tanaman yang banyak terlihat adalah kopi dan tebu. Karena memang penduduk Kalibaru bertani kopi. Satu kilometer dari turun pegunungan anda bisa mendapatkan hotel untuk menginap. Tak lama kemudian sampailah saya ke depan balai desa Kalibarumanis (desa saya). Begitu turun dari bus, saya langsung menuju wartel. Belum sampai wartel Mas Arif (anak guru ngaji saya) memanggil saya. Dan akhirnya saya diantar pulang.

Sesampai di rumah saya langsung isrirahat sejenak. Menjelang sore saya mandi di sungai sambil cuci baju. Berbeda dengan di Surabaya yang kotor dan bau, sungai di Kalibaru sangat bersih, banyak bebatuan, sumbernyapun sangat banyak jadi jangan khawatir kena penyakit kulit kalau mandi di sungai.

Menjelang berbuka saya sekeluarga berbuka bersama. Ada beberapa macam makanan saat itu, karena baru dapat “ater-ater” dari para tetangga maupun dari kerabat yang agak jauh.

Kadang-kadang saya tarawih di mushola, dan dilain kesempatan tarawih di masjid. Namun kalau masalah tidur, saya lebih sering tidur di mushala. Karena ketika masih SMP dan SMA saya sering tidur di mushala kalau waktu pulang ke Kalibaru.

Seperti biasanya kalau tanggal 29 Ramadlan zakat fitrah dibagikan. Selama tiga tahun terakhir saya tidak pernah absen untuk ikut membagikan zakat kepada yang berhak. Saya sangat senang ikut kegiatan ini, karena selain membuat orang yang menerima senang kita juga akan di doakan oleh mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(At-Taubah 103).

Takbir berkumandang menggetarkan hati setiap mukmin yang mendengarnya, pertanda berakhirnya puasa Ramadlan. Selesai berbuka puasa, saya berkumpul di mushala, dari pengurus mushala dan masjid sepakat untuk mengadakan takbir keliling. Ketika anak-anak sudah banyak yang berkumpul, merekapun saya ajak untuk gabung dengan teman-teman yang di masjid.

Rombonganpun berangkat, saya bertugas untuk mengawal anak-anak kecil yang berangkat paling depan. Mereka sangat semangat sekali, sampai kadang-kadang harus berhenti sejenak karena rombongan sempat terputus. Selesai takbir keliling saya dan teman-teman kembali ke mushala. Bu Isman(istri ustad saya) segera menyiapkan nasi untuk para santri yang ikut takbiran, baik yang di mushala maupun yang ikut takbir keliling. Saya memnamtu menyuguhkan makanan yang sudah siap di hidangkan. Malam itu benar-benar malam yang penuhn semarak takbir, semoga semangat untuk memperbaiki diri, meramaikan tempat ibadah, dan semangat untuk menuntut ilmu tidak kalah dengan semangat dalam mengumandangkan takbir saat idul fitri.

Usai shalat subuh saya membantu Pak Isman(ustad saya) menyiapkan tempat untuk shlat Id. Di kampung saya ada dua tempat paling dekat untuk melaksanakan shalat Id. Karena kalau dijadikan satu di masjid tempatnya tidak cukup.

Seperti biasanya usai shalat Id Imam masjid memimpin halal-bihalal di Masjid. Selesai dari masjid, saya “sungkem” pada orang tua, adik-adik, nenek, paman, bibi, dan tetangga terdekat. Baru kemudian saya ke Pak Isman. Setelah itu saya mencari Tri dan Sobirin. Setiap hari raya kami sering silaturrahim tetangga-tetangga bertiga.

Seharian bersilaturrahmi badan terasa capek, perutpun tak nyaman entah makanan dan minuman apa saja yang masuk ke perut. Kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Hari kedua saya lanjutkan ke tetangga terdekat yang belum sempat terkunjungi. Setelah matahari agak siang saya diajak bapak ke rumah teman-temannya. Habis Dluhur saya lanjutkan dengan Sobirin karena sebelumnya kami sudah berjanji untuk melanjutkan silaturrahim.

Hari-hari berikutnya kami sekeluarga bersilaturrahim ke tempat saudara-saudara orang tua yang agak jauh dari empat tinggal kami. Ada yang di Kalibaru kota, ada yang di Glenmore, ada pula yang di Jember.

Pada hari yang kelima di SMAku diadakan Reuni Takmir. Sebelum ikut reuni, saya sempatkan ke rumah Ibu kosku saat SMA. Beliau sangat perhatian dan sangat dermawan. Beliau adalah guru TPA di dusun Maron. Saya juga sempat ke rumah teman-teman mengaji saat masih SMA. Di sana saya bertemu dengan teman-teman yang sebagian besar masih banyak yang kuliah. Selain halal-bihalal, kegiatannya juga ada sharing tentang kehidupan diperkuliahan, serta ada wejangan dari Bapak Abdul Karim (Pembina Takmir). Kegiatan diakhiri dengan prasmanan.

Habis Dluhur saya ke rumah Bu Nur. Beliau juga sangat dermawan. Setiap kali teman-teman Takmir mengadakan kegiatan beliau selalu membantu. Bahkan saat saya akan masuk kuliahpun saya di bantu beliau. Saat itu Bu Nur tahu dari adik kelasku bahwa saya sedang butuh biaya untuk daftar ulang ke ITS. Beliau menggalang bantuan dana dari guru-guru untuk membantu biaya daftar ulang saya. Oleh karena itu, setiap Idul fitri saya sempatkan untuk silaturrahim ke rumah beliau. Dari rumah Bu Nur saya lanjutkan ke rumah Bu Endang. Beliau adalah wali kelasku saat kelas tiga. Beliau terkadang sikap lucu, hal ini beliau lakukan agar bisa membangun kedekatan dengan anak didiknya. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk ikut kerja bakti saat kami sekelas mengadakan kerja bakti. Di sana kami diberi banyak nasehat.

Sebenarnya kami juga ingin silaturrahim ke rumah Bu Ismiati. Namun karena tak ada orang di rumahnya kamipun tidak jadi. Akhirnya kami pilang kerumah masing-masing.

Tak terasa hari kuliah akan segera tiba. Pagi itu saya pulang dari mushala, sepanjang mata melihat tampak hamaparan bunga kopi yang berwarna putih, baunyapun sedap. Sungguh pemandangan yang tak akan pernah saya dapatkan di Surabaya.

Hari itu hari Minggu, saatnya saya kembali ke Surabaya. Setelah saya berpamitan dengan keluarga sayapun diantar Bapak ke Stasiun Kalibaru. Kereta yang saya tumpangi sangat sesak, hampir saja saya tidak bisa naik. Maklum hari itu hari terakhir liburan, dan keretanyaun kereta ekonomi. Kereta berjalan, saya bisa duduk beralaskan sandal. Saya bersyukur masih bisa ikut kereta tersebut. Di kanan kiri kereta terlihat hamparan bunga kopi yang sangat menakjubkan. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan dan tak terlupakan.

Dalam kereta tersebut saya mendapatkan pelajaran yang menarik. Saat itu ada seorang ibu berusaha menenangkan anaknya yang menangis. Dengan sabar dia mengipasi anaknya, walaupun anak itu masih saja rewel. Bisa jadi saat kita masih kecilpun kita sering meminta sesuatu yang di luar kemampuan orangtua kita. Namun dengan sekuat tenaga orangtua berusaha untuk memberikan terbaik unutk kita.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kalau kita berbakti kepadanya. Baik dengan mendoakannya, membantunya saat kita di rumah, atau tidak membuat orang tua kita menjadi marah. Semoga kita dijadikan anak yang shaleh/shalehah. Amiin

November 22, 2008

Halo dunia!

Filed under: pengalaman — temuireng @ 1:23 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.